Entah ide gila dari mana yang tiba-tiba merasuki saya untuk mendirikan cafe. Mungkin karena takjub dengan sebuah kedai sederhana yang selalu ramai pengunjung mulai dari sore hingga malam hari, atau karena saya memang punya impian memiliki sebuah cafe yang enak, seru, tapi murah. Kata terakhir dalam kalimat tadi adalah kuncian, m-u-r-ah, semua orang selalu suka dengan murah yang tidak murahan, begitu juga saya.
Setelah lebaran, ketika akhirnya saya kembali menganggur setelah sekitar sebulan direpotkan dengan urusan produksi 2000 toples coklat selama Ramadhan, saya mulai memikirkan langkah-langkah dalam membuat cafe. Mulai dari modal, sampai perintilan-perintilan. Tapi yang utama tentu saja modal. Tanpa modal, gimana mau jalan?
Saat itu uang belum di tangan, tapi rancangan dan A-Z sudah saya buat sedemikian rupa. Mungkin menurut sebagian orang saya gila, hehe. Setiap hari saya browsing tentang menu-menu khas mexico yang mungkin ada yang belum pernah saya cicipi, lalu riset harga furniture, cat, dekorasi, perlengkapan dapur, dll. Lalu bereksprerimen di dapur dan meminta tetangga, keluarga dan teman untuk ikut mencicipi dan berkomentar. Hmmm... tapi bagian yang sangat tidak saya suka dari eksperimen adalah... saat saya harus membersihkan peralatan dan merapikannya kembali. ough!
Oke, konsep sudah separuh jadi. Uangnya yang belum ada. Hahaha. Maklum, saya agak terpengaruh dengan pemikiran versi otak kanan yang tergolong nekat. Terus, darimana dong uangnya? Maka saya pun mencoba mengajukan proposal kepada seorang teman yang memang sudah pernah invest di usaha coklat saya saat Ramadhan. Cukup lama beliau nggak menjawab, tapi saya tenang aja, dan berpikir kalau usaha ini diridhoi Allah insya Allah akan Allah mudahkan juga jalannya. Benar aja, kabar baik pun datang. Teman saya itu bersedia menanggung 50% dari modal keseluruhan, alhamdulillah. Selanjutnya MOU saya buat rangkap dua dengan dilengkapi materai. Maka perjanjian kerjasama ini kuat di hadapan hukum. Sisa modalnya dari mana? Sebagian dari tabungan suami, dan sebagian lagi saya dapatkan dari kucuran dana bank pemerintah yang sedang konsen membantu UKM. Syukurlah, karena pencatatan Chocolieta (brand coklat praline saya) rapih mulai dari produksi, penjualan, bon, resi pengirimanm dll, maka tidak sulit untuk mendapatkan kepercayaan dari pihak bank. Bahkan mereka menawarkan saya jumlah pinjaman yang lebih besar lagi, saya yang nggak mau, nggak mau bayarnya, hehehe.
Sebulan kemudian setelah konsep matang, saya pun mulai belanja keperluan yang dibutuhkan, juga mengawasi sendiri proses renovasi tempatnya. Seru, suer! Hihihi. Total semua persiapannya adalah 2 bulan, dan itu cukup melelahkan tenaga dan pikiran.
Dan akhirnya, taraaa! Cafe kecil itu pun resmi buka pada tanggal 5 Oktober 2014.
Nantikan cerita selanjutnya tentang usaha cafe di sini ya ^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar